Peningkatan Kapasitas Administrasi Pertanian

CISAAT – Sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Sektor ini merupakan sektor yang tidak mendapatkan perhatian secara serius dari pemerintah dalam pembangunan bangsa. Begitupun di Desa Cisaat, sektor pertanian juga mempunyai peranan strategis.

Potensi pertanian Indonesia yang besar namun pada kenyataannya sampai saat ini sebagian besar dari petani kita masih banyak yang termasuk golongan dibawah rata atau kategori miskin. Maka dari itu dipandang perlu adanya pemberdayaan untuk sektor pertanian dalam peningkatan kapasitas peradministrasian.

Desa Cisaat senantiasa mencoba mengupayakan untuk mengoptimalkan, membina dan memberdayakan sektor pertanian di Desa Cisaat, salah satunya dengan kegiatan yang diadakan pada hari Rabu (29/11) ini. Kegiatan yang diadakan di Aula Kantor Desa Cisaat ini bertemakan Peningkatan Administrasi Pertanian.

Narasumber yang coba didatangkan dirasa cukup kompeten di bidangnya. Pemerintah Desa Cisaat mengundang narasumber dari Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kabupaten Sukabumi yang mengutus Yaya Sukarya, SP. (Kepala BP3K Kecamatan Cisaat), Wulan Oktaviani, SP. (Penyuluh Pertanian) dan Dudi Iskandar (Penyuluh Pertanian).

Kegiatan ini dibuka oleh Nurdin Syafrudin Kepala Desa Cisaat kemudian dilanjutkan dengan materi oleh para narasumber. Yaya Sukarya dalam materinya menjelaskan, “Peningkatan kemampuan manajemen, kewirausahaan dan organisasi bisnis dan peningkatan kapasitas petani (laki-laki dan perempuan) sebagai manajer, pengurus, dan/atau pengelola KEP/BUMP meliputi delapan kemampuan yang diantaranya : menyusun rencana usaha; mengelola dan mengembangkan usaha; melakukan pengembangan produk (diversifikasi usaha); menyusun rencana pemasaran; melakukan pembukuan keuangan, akuntansi dan perpajakan; menghimpun permodalan dan mengakses sumber pembiayaan; merespon peluang pasar; dan mengembangkan Sumber Daya Manusia”.

Nurdin Syafrudin berpesan, “Para petani agar terbiasa dalam pengelolaan administrasi : pertama administrasi kelompok (buku anggota, buku tamu, buku iuran, buku inventaris barang, buku kegiatan, buku notulen rapat, buku surat keluar, buku surat masuk), kedua untuk memahami para petani me-manage atau mengelola hasil panennya (berapa jumlah biaya pengolahan lahan, berapa biaya benih, berapa biaya pupuk) dan dihitung hasil penen dikurangi pengeluaran sehingga kelihatan ada keuntungan, yang ketiga dari hasil pelatihan pengelolaan administrasi kelompok tani ini agar bisa dimanfaatkan ilmunya serta bisa direalisasikan / dimanfaatkan, dilakukan di masing-masing kelompok, dan yang terakhir untuk bulan Desember para ketua kelompok agar segera membentuk kepengurusan untuk pembuatan Badan Hukum (Akta Notaris) yang dilanjutkan dilaporkan ke Kemenkumham sehingga memiliki Badan Hukum Kelompok Tani yang legal serta memiliki NPWP”. (RAB)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan